Skip to main content

Landing on Kuala Lumpur, Naik LRT Menuju Petronas Twin Tower



-first day-

Desember 2018. Keberangkatan Surabaya (T2) 04:25 am. Tujuan Kuala Lumpur (klia2).



Halo Internet. Gue mau cerita. Ini kisah pertama perjalanan gue “be a backpacker” ke luar negeri. Pertama kali gue memberanikan diri untuk traveling sedikit lebih jauh dari rumah. Merasakan terbang untuk pertama kali, dan pertama kali pula tau se-degdeg-an apa ketika pesawat mulai take off dan juga landing. Cih, alay. Haha. Dikutip dari novel favorit gue, dalam dunia penerbangan dikenal istilah Critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat, tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing. Dan gue, sebagai orang yang pertama kali naik pesawat, adalah orang yang paling“gak asik”. Gak asik karena gue tegang sepanjang perjalanan dan OCD (Obsessive Compulsive Disorder) gue kumat. Fiuh. 



Pesawat gue berhasil landing di Kuala Lumpur sekitar pukul 07.45 am. How is really excited am i, nginjekin kaki pertama kali di negeri orang. Sungguh ingin teriak saking senengnya. Hahaha. Fix, kampungan. Turun dari pesawat, gue melewati aquabridge menuju terminal penghubung dan berhenti di rest area. Tujuan gue satu di rest area. Apa coba tebak? Toilet. You know lah orang ngapain kalo ke toilet. Haha. Gue sih pergi ke toilet untuk cuci muka dan touch up make up tipis tipis. Selanjutnya, gue meneruskan perjalanan melewati sky bridge, tempat dimana gue bisa melihat pesawat – pesawat yang terparkir rapi di luar bandara klia2. Tapi gue nggak sempat fotoin, karena terlalu fokus sama wifi bandara yang minta log in ke alamat facebook di HP. Asli, setelah berhasil log in, wifinya lancar banget dibuat chatting whatsapp dan buka instagram. Gue nggak perlu beli paket internet, karena di kuala lumpur tujuannya hanya transit, jadi cukup mengandalkan wifi dimanapun berada. Yup, H-E-M-A-T.

Tiba di lantai 2, gue segera menuju arrival hall (balai ketibaan) dan ngantri di pos imigrasi. Antriannya lumayan banyak dan panjang, tapi gue seneng aja karena lagi hebring ngeliat lalu lalang orang asing di sebelah kanan kiri gue. Bule hunter mode on (wkwkwk). Berhasil melewati pos imigrasi, tujuan selanjutnya adalah mencari sarapan. Destinasi tempat makan akhirnya jatuh pada restoran quizine dengan memesan nasi lemak dan segelas es teh seharga 12 MYR satu porsi.



Anyway, gue melakukan perjalanan ini bersama seorang teman. Teman gue ini salah satu anggota BI (Backpacker Indonesia) dan udah beberapa kali traveling ke luar negeri. She is an awesome girl. Seseorang yang mengurus hampir semua perjalanan kami, dari mulai booking tiket pesawat, hostel dan juga merencanakan itinerary perjalanan kami. She is also writing on a blog. You can visit her website on ismifahmimus.blogspot.com . Cukup banyak tulisan tentang traveling yang bisa kalian temukan disana. Jadi, jangan lupa kepo ya.

Back to the story. Sebelum ke restoran quizine, teman gue sempat ngajak makan ke sebuah tempat yang menyediakan makanan murah. Tempatnya di luar bandara klia2, itu semacam kantin atau tempat makan untuk para supir taksi dan bus gitu loh. Gue lupa keluar di pintu sebelah mana, yang pasti itu tempat menguras energi kami dipagi hari. But, it’s okay demi makan murah. Zonk-nya, setelah sampai ternyata makanannya sudah habis. Kami hanya bisa cengirin si bapak dan ibu yang jual dan senyum terpaksa karena kelaparan.

Pengalaman mencari makanan murah, sedikit membuat gue punya pengalaman kelilingin bandara klia2. Gue sempat melewati banyak outlet yang jualin baju dengan brand terkenal, minimarket,  naik turun lift, food court dan ya, hal – hal yang biasanya kita temukan kalau kita ke mall. Gue baca di sebuah artikel ada penginapan kapsul juga di bandara klia, smoking area, klinik kesehatan dan banyak lagi. Kesimpulannya bandara ini luas banget. Nggak tau deh berapa meter yang udah gue tempuh.

Kami memiliki banyak waktu free karena waktu transit kami yang lumayan lama. Jadi kami memutuskan untuk pergi ke Petronas Twin Tower, salah satu tempat yang harus dikunjungi ketika kita berada di Kuala Lumpur. Kami pun segera menuju loket pembelian tiket bus menuju KL Sentral. Seingat gue, lokasinya berada di dekat pintu keluar bandara klia2. Bukan hanya tiket bus, di sana juga ada loket pemesanan untuk taxi atau mobil. FYI, harga tiket bus dari bandara klia menuju KL Sentral 12 MYR/orang dengan estimasi perjalanan sekitar 2 jam.


Loket Pembelian Tiket Bus ke KL Sentral
Bus yang kami tumpangi memiliki fasilitas cukup lengkap, bisa charge hp, ada cctv dan juga wifi. Nyaman untuk tidur selama perjalanan. Tapi entah kenapa mata gue nggak bisa diajak kompromi, maunya melek terus. Berbeda dengan teman seperjalanan gue yang sudah tidur pulas di tempat duduk sebelah. Akhirnya gue memutuskan untuk mengambil headset dan mendengarkan musik seraya menikmati perjalanan menuju kota. Jarak antara bandara dan pemukiman kota ternyata cukup jauh. Setelah membaca beberapa artikel, ternyata bandara klia memang sengaja dibangun di tengah hutan. Ini merupakan proyek antara pihak bandara dengan kementrian lingkungan negeri Malaysia.

Tiba di KL Sentral, gue melewati loket pembelian tiket bus di dekat eskalator menuju pintu masuk. Dan berhasil memotret jadwal keberangkatan bus yang ada di dinding loket. Dan, ini diaa.... Silahkan kepo.


Jadwal Keberangkatan Bus KLIA2 - KL Sentral 
Masuk KL Sentral, gue merasa terperangah gitu loh melihat lautan manusia yang sedang hilir mudik di tempat ini. Ramai sekali dan dipenuhi manusia dengan beragam ras. Dari orang berkulit putih (bule), melayu, china, india, dan arab yang berlalu lalang menuju tujuan mereka masing – masing. Gini nih ya kalo jarang keluar rumah, lihat bule aja kayak lihat dewa. Huahaha. KL Sentral merupakan pusat transportasi di Kuala Lumpur yang dilalui oleh jalur MRT dan LRT kebanyak tempat di kota ini. Jadi wajar saja kalau ramai banget. Dan kami pun sedikit iseng berfoto di tengah – tengah keramaian walaupun harus menebalkan muka untuk menahan malu. Udah gitu take fotonya pakai kamera HP lagi. Alhasil gini deh jadinya. Biar bisa ngeblur di edit dulu pak. Ampun.



Lokasi Petronas Twin Tower berada di KLCC. Kami harus menggunakan jalur LRT dengan harga tiket 2,4 MYR per orang untuk menuju kesana. Ini pertama kalinya bagi gue naik LRT. Di dalam LRT, ada beberapa peraturan seperti tidak boleh makan dan minum, mendahulukan lansia dan ibu hamil, dan beberapa aturan lainnya yang gue lupa itu apa saja. Gue juga bisa melihat banyak bangunan besar dari jendela kereta yang membuat gue semakin takjub. Tidak sabar, LRT juga bisa segera ada di Indonesia. It will be an efficient transportation.


Mesin Pembelian Tiket LRT


Tiket Naik LRT
Turun dari LRT, kembali kami bertemu dengan manusia- manusia pemburu waktu dengan langkah kaki mereka yang lebar dan cepat. Gue sempat iseng menyamai langkah kaki mereka yang pada akhirnya membuat gue cukup ngos - ngosan. LOL.


Keramaian di KLCC


Foto bersama Luhan
Then, here we are, melangkah menuju bangunan Petronas Twin Tower. Bangunan yang sempat menjadi gedung tertinggi di dunia sebelum Burj Khalifa dan Taipei 101 dibangun. Gue baca di Wikipedia, Menara Petronas ini di rancang oleh seorang arsitek Argentina bernama Cesar Pelli. "Siape tuh mbak?" Haha. Gue juga nggak kenal. Dibawah bangunan ini, terdapat sebuah taman hijau  dengan jalur jogging, area rekreasi, arena bermain untuk anak-anak dan kolam air mancur yang dihiasi pertunjukan cahaya. Orang-orang mengenalnya dengan taman KLCC.


Petronas Twin Tower
Satu hal yang membuat gue tertarik ketika browsing tentang taman KLCC, gue baru tau kalau taman ini merupakan karya terakhir Roberto Burle Marx. Seseorang berkebangsaan Brazil yang merancang arsitektur taman KLCC. Satu pesannya ketika taman ini dibangun, ia ingin meninggalkan dunia yang lebih sedikit peka dan lebih sedikit terdidik mengenai kepentingan alam. Uwah, telak banget dan bikin gue lebih mikir untuk peduli sama alam. By the way, gue kayaknya kebanyakan cerita isi Wikipedia deh. Ok. Back to real story.


Bangunan di sekitar Petronas



Kami akhirnya berburu foto di depan menara petronas yang megah. Nggak mau kalah sama turis - turis sebelah. Dari selfie, wefie sampai minta tolong orang buat fotoin. Gue dengan banyak pose miring, senyum, kaki diangkat satu, tangan diangkat dan banyak pose lainnya, membuat galeri hp gue penuh dengan puluhan foto di satu lokasi. Emang ya, begitulah generasi micin, padahal ujung – ujungnya hanya satu dua foto yang di posting.



Pose paling kalem
Selain para turis, beberapa orang juga ikut meramaikan taman KLCC (area depan Menara Petronas) dengan menawarkan lensa kamera…... Gue lupa namanya, yang pasti efeknya kayak gopro atau eyefish camera, sehingga membuat ujung menara petronas bisa tertangkap oleh kamera hp kita. Teman gue tertarik dengan lensa itu. Setelah melalui proses tawar menawar yang cukup penuh sepikan ke abang penjual (ihir), teman gue akhirnya bisa membeli lensa ini seharga 70 ribu rupiah. Yang kata abang penjual lainnya itu murah banget. Si abang akhirnya membantu mengambil foto kami dengan lensa itu di depan Menara Petronas. dan bilang, katanya Menara Petronas lebih indah ketika malam tiba. Dan teman gue mengiyakan, karena dulu doi pernah ke tempat ini ketika malam. 

Tidak terasa, matahari mulai terik dan rasa panasnya semakin menyengat. Kami memutuskan untuk ‘ngadem’ sebentar di mall dan kembali ke KL Sentral. Kami harus segera memesan tiket bus untuk kembali ke bandara klia. Bye Petronas. Kapan – kapan aku akan mengunjungimu kembali di malam hari.  

Comments

  1. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampau ya! Haha. Berapa jam kak transitnya biar bisa mlipir ke petronas?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Menyusuri Spot Foto "Instagramable" di Pantai Boom Banyuwangi

Hello people. Kali ini, aku bakal share salah satu tempat keren di kota Banyuwangi. Namanya Pantai Boom atau juga dikenal dengan nama 'Marina Boom Beach'. Pantai ini lokasinya super strategis banget karena berada ditengah kota. Dekat dengan gedung bioskop New Star Cineplex di Jl. Nusantara, Kampung Mandar, Banyuwangi. Kalau kamu mau berkunjung ke pantai ini, kamu hanya harus membayar tiket masuk seharga Rp.5000/orang. Tuh, murce banget kan? Honestly, Pantai Boom ini sudah ada sejak lama. Hanya saja, sekarang wisatanya menjadi sangat berkembang dan beragam. Ada banyak spot foto baru epic yang bisa kamu potret dan posting untuk mewarnai feed instagram kamu. Dimana saja sih spot menariknya? Fine. Let's check it out!  JEMBATAN LINTAS (Causeway) Ini nih spot yang paling baru di Pantai Boom Banyuwangi. Jembatan lintas yang lagi hits diujung timur pulau Jawa. Berfoto disini, udah kayak berasa di luar negeri saking elegannya arsitektur jembatan ini dibuat. Padahal ka...

Review Buku "Fish In The Water" Karya Lee Chan Hyuk AKMU

  Aku baru tahu, kalau lagu "fish in the water" yang terdengar ceria itu, punya cerita yang dalem banget dan penuh dengan filosofi.  Aku suka bagaimana karakter hyeya di dalam buku ini. Dia selalu punya pikiran dan caranya sendiri untuk menanggapi hal apapun dalam hidup. Hyeya yang bebas dengan pikirannnya yang sederhana. Pas banget emang, ketemu sama lelaki seperti Seon, yang melakukan perjalanan dan membawa pertanyaan besar untuk dirinya sendiri. Yang nyari maunya dia apa? Dan apa sebenarnya seniman sejati? Aku setuju kalau Hyeya memang orang yang tepat untuk melengkapi kisah Seon. They are like a silver lock and key. "Seon, kau tidak memerlukan sesuatu yang luar biasa. Jika kau merasa kau tidak bisa menepati apa yang kau ucapkan, katakan saja apa yang bisa kau tepati." Itu yang dikatakan Hyeya, ketika Seon sedang rumit dengan pikirannnya tentang seorang seniman sejati. It was something, right? Kadang kita membuat suatu hal yang sederhana menjadi sangat rumit di ...