My first impression to Bangkok adalah “aku merasa pulang”. Wih, alay yak analogi gua? wkwkwk. Aku bilang begitu karena lalu lintasnya mengingatkanku pada Indonesia. Jalanannya, bis yang aku tumpangi dari bandara dan juga taxi yang berlalu lalang. Menurutku, Bangkok itu campuran antara Kota Jakarta dan Bali di Indonesia. Walaupun tentu saja pasti ada beberapa perbedaan, seperti ras dominan yang tinggal di Bangkok, bahasanya, dan juga adanya sungai Chaophraya. Sungai ini termasuk salah satu jalur penting dan masih aktif digunakan sebagai transportasi sehari – hari penduduk bangkok. Tidak hanya penduduk lokal, jalur lalu lintas di sungai chaophraya juga selalu menjadi pilihan utama banyak turis untuk mengunjungi tempat – tempat ikonic di kota bangkok. "Seru yaaa?" "Iyaaa, Bangeett". So, disini aku mau sharing asyiknya perjalanan kami selama hari pertama di Bangkok. But sebelum itu, mari ku ceritakan sebentar sedikit drama bagaimana kami tiba di hostel. Semuanya berawal dari :
Bandara Don Meung, Bangkok
Yups, finally. Setelah delay berjam-jam di KL, kami akhirnya bisa landing di bandara lamanya kota Bangkok. Langsung mengantri di pos imigrasi, beli kartu perdana paket internet, terus nyegat bus A1 untuk menuju ke Mochit dengan harga 30 baht per orang. Beruntung, kami masih bisa naik bis terakhir, karena waktu sudah hampir menunjukkan tengah malam. Bis A1 beroperasi dari jam 9.00 am sampai jam 12.00 pm.
Mo Chit
Kami diturunkan di halte, dekat jembatan penyebrangan. Sayangnya, kami tiba disini ketika waktu p.m telah berubah menjadi a.m alias udah lewat tengah malam. Jadi, walaupun area ini ramai dengan lalu lalang bis ketika siang hari dan dekat dengan jalur BTS, saat itu kita nggak bisa kemana-mana, karena udah kemaleman dan melewati batas jam operasi bis atau BTS. Fiuh. Buntu. Pilihannya: duduk sebentar baru kemudian berpikir. Di area ini, masih banyak sebenarnya taxi yang berlalu lalang, tapii.... sepertinya itu mahal dan kebanyakan mereka menolak karena mungkin beda jalur dengan jalan pulang si bapak supir taxi.
Hingga kemudian, kami akhirnya bertemu dengan seorang bapak baik, dan menawarkan kami naik taksinya dengan harga 100 baht/orang. Nggk tau deh, harga segitu itu mahal apa kagak. But I really thankful. Konyolnya, bapak ini tidak bisa berbahasa inggris, jadi kami harus belajar bahasa thailand dadakan (dengan lidah yang kelu) dari sebuah aplikasi. Seraya menunjukkan jalan berdasarkan google map.
Yang paling bikin tersentuh, adalah ketika kami akhirnya tiba di hostel, tapi bapaknya belum mau pergi, menunggu konfirmasi, apakah kami sudah di tempat yang benar atau tidak, dan baru pergi setelah kami masuk hostel dengan selamat. Secara, sebelumnya kami sempat muter-muter gak jelas dan turun di hotel yg salah. Am I really dramatic? Dunno. But, bersyukur banget masih bisa ketemu orang baik.
GLUR BANGKOK
Ini
nama hostel tempat kami menginap di Bangkok. Lokasinya berdekatan dengan
Shangri-La Hotel. Temanku memesannya melalui aplikasi online dan kebetulan
mendapatkan promo. Rejeki anak sholeha. Hahaha. Glur bangkok menurutku tempat
yang sangat strategis buat kemana – mana karena dekat dengan Dermaga Sathorn
Pier dan juga jalur BTS/skytrain. Selain itu, bagi kita yang beragama muslim
ada musholla/masjid kecil yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Aku dan
temanku juga sempat berjalan – jalan di area hostel untuk mencari makan malam.
Dan menemukan salah satu rumah makan halal yang bernama kareemah. Tuh, mantul
banget kan tempatnya. Anyway, ada free breakfast juga di hostel ini. Lumayan,
untuk mengganjal perut di pagi hari sebelum menjelajahi bangkok.
SATHORN PIER
Ini nih dermaga utama, tempat bersandarnya kapal-kapal yang berlalu lalang di sepanjang sungai Chao Phraya. Kapal - kapal yang berlabuh itu banyak banget macamnya gengs. Itu bisa kita bedain dari warna bendera di masing-masing kapal. Ada kapal dengan bendera warna kuning, orange, hijau, dan lainnya (aku lupa apa saja). Pertama kali ke pelabuhan Sathorn Pier ini, kami rada sedikit bingung kudu ngantri di sebelah mana. Kayak orang 'haho' gitu mau ngaps. Dan sempat nyasar ke kapal yang dia full book gitu. Jadi, kita bayar sekali doang dan kapal itu bakal bawa kamu ke tempat-tempat ikonic Bangkok di sepanjang sungai Chao Phraya. [Kalau aku gak salah menerjemahkan si mbak-nya yang sedang ngoceh. huhu]. Fortunately, temanku udah riset dari blog dan tau kami kudu naik kapal dengan bendera orange, karena harganya lebih terjangkau dan jam operasionalnya lebih fleksibel. So, untuk wisata pertama kami di Bangkok, kami akan menuju Grand Palace.
Ini nih dermaga utama, tempat bersandarnya kapal-kapal yang berlalu lalang di sepanjang sungai Chao Phraya. Kapal - kapal yang berlabuh itu banyak banget macamnya gengs. Itu bisa kita bedain dari warna bendera di masing-masing kapal. Ada kapal dengan bendera warna kuning, orange, hijau, dan lainnya (aku lupa apa saja). Pertama kali ke pelabuhan Sathorn Pier ini, kami rada sedikit bingung kudu ngantri di sebelah mana. Kayak orang 'haho' gitu mau ngaps. Dan sempat nyasar ke kapal yang dia full book gitu. Jadi, kita bayar sekali doang dan kapal itu bakal bawa kamu ke tempat-tempat ikonic Bangkok di sepanjang sungai Chao Phraya. [Kalau aku gak salah menerjemahkan si mbak-nya yang sedang ngoceh. huhu]. Fortunately, temanku udah riset dari blog dan tau kami kudu naik kapal dengan bendera orange, karena harganya lebih terjangkau dan jam operasionalnya lebih fleksibel. So, untuk wisata pertama kami di Bangkok, kami akan menuju Grand Palace.
GRAND PALACE
Transport : kapal bendera orange 15 baht, sathorn pier - dermaga tachang.
You can see a beautiful architecture in this place. Grand palace merupakan kompleks istana raja Thailand, yang di dalamnya terdapat banyak bangunan megah dan kuil-kuil yang cantik dan unik banget. Salah satunya ada kuil What Phraw Kaew, yang kata orang adalah kuil paling suci di Thailand. Tempat ini juga luaaas banget. Saking luasnya, rasanya nggak cukup mengitari detailnya dalam sehari. Tapi ya mau gimana lagi, kami tidak punya cukup waktu. Jadi, kami pun berwisata kilat disini. FYI, untuk masuk kesini kami membeli tiket seharga 500 baht.
Hmm, ada banyak turis yang berkunjung dan berlalu lalang di tempat ini. Kesalahan fatalnya, kami baru ingat : "It's a Weekend". OMG, jadi wajar sekali suasananya begitu meriah. Paling benci sih, kalau udah siap siaga untuk potret foto, tapi tiba-tiba ada satu rombongan turis yang kemudian lewat. It was really Uuuugghh banget. Ok. Sekarang, aku bakal spam foto tentang keindahan kompleks grand palace, hiruk pikuknya turis yang berada di dalamnya, juga tentang terik matahari yang membuat semua foto yang terjepret begitu terang. And, here is it...
WAT ARUN
Transport : perahu bendera oranye 15 baht, dermaga tachang - dermaga wat arun
Dari kapal yang aku tumpangi, bangunan itu terlihat putih menjulang di seberang kanan sana. Namanya Wat Arun, tempat selanjutnya yang akan kami kunjungi. First step, beli tiket masuk dulu seharga 50 baht. Wat arun memang tidak seluas grand palace, namun bangunan kuil dengan nuansa yang serba putih itu tetap mempesona bagi para wisatawan. Dua kata untuk Wat Arun, cantik dan strategis, karena lokasinya yang berada pas di pinggir sungai Chao Phraya dan terletak di tengah kota Bangkok.
NB : Setelah dari wat arun, kami kembali ke hostel dengan menggunakan kapal bendera kuning 20 baht, karena antrian turis yg menunggu kapal bendera orange terlalu bejibun.
ASIATIQUE RIVERFRONT
Transport : dermaga sathorn pier - asiatique, free boat menuju asiatique jam operasional 16.00 - 23.00
Asiatique, the final visit of our first day in Bangkok. Untuk sampai kesini, kami harus mengantri cukup panjang demi mendapatkan tumpangan gratis. Asiatique ini surganya miss shopaholic. Iya, bagi kamu yang suka berbelanja dan menikmati kuliner kota Bangkok, kamu wajib banget berkunjung ke tempat ini. Asiatique ini, salah satu tempat gaul di Bangkok, mall keren yang berada di pinggir sungai Chao Phraya. Segala kebutuhan, dari fashion dan juga kuliner tersedia disini. Tapi kalau kamu mau beli sayur/ikan segar, atau panci dan sejenisnya, nggak tau deh ada disini apa nggak. Hehehe. KAMI. Aku dan temanku, berdasarkan recehan baht yang kami bawa, kami gagal berada di barisan "miss shopaholic". Jadi, cukup kamera saja yang kami bawa untuk potret sana sini, mengabadikan waktu singgah kami di Asiatique. Hahaha. Ironis.
Waktu yang mulai larut, mengingatkan kami untuk segera kembali ke hostel. Beristirahat, menyiapkan energi untuk traveling esok hari. By the way, sungai Chao Phraya, di malam hari begitu eksotis. Semakin indah dengan kerlap kerlipnya lampu kapal yang berlalu lalang, juga bangunan-bangunan yang menjulang tinggi di pinggiran sekitar sungai. Aku baru melihat dengan jelas, bahwa ada banyak jenis kapal di sungai chaophraya ketika malam tiba. Bukan hanya kapal untuk transportasi, ternyata ada kapal yang di fungsikan untuk restoran dan clubbing di area sungai ini. Wah, hingar bingar kota Bangkok.
Good night, Bangkok.
Desember 2018


















thankyou for your information kak, kalo nanti senggang, guidean ke bangkok juga dong.!!!
ReplyDeleteInformatif sekali kak ceritanya. Semoga bisa nyusul kesana juga kapan kapan, hehe
ReplyDelete